Tantangan Kesiapan Kerja Lulusan Perguruan Tinggi dan SMK, Solusi Melalui Aplikasi Deteksi Dini
Fenomena kesiapan
kerja lulusan perguruan tinggi dan SMK saat ini menjadi isu penting di
Indonesia. Banyak lulusan yang belum siap memasuki dunia kerja meskipun
memiliki keterampilan teknis yang mumpuni. Data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) menyebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 8,49%
pada 2021, menunjukkan masih adanya kesenjangan antara keterampilan yang
dimiliki dan tuntutan industri?.
Salah satu penyebab
utama adalah kurangnya soft skills seperti komunikasi, daya juang, dan
adaptabilitas yang membuat lulusan kesulitan menghadapi tekanan di lingkungan
kerja. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu guru SMK di Yogyakarta melalui wawancara
“Meskipun lulusan kami memiliki keterampilan teknis yang cukup baik, daya juang
dan ketahanan mental mereka masih kurang, terutama setelah pandemi”.Hal ini
diperparah dengan rendahnya ketahanan mental siswa ketika dihadapkan pada
tantangan di tempat kerja, terutama saat menjalani Praktik Kerja Lapangan
(PKL). "Tidak jarang siswa yang langsung mengundurkan diri dari PKL karena
merasa tidak cocok atau tidak mampu beradaptasi dengan tekanan kerja,"
lanjutnya.
Salah satu upaya yang
dilakukan dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan yakni Dr. Fatwa
Tentama, S.Psi., M.Si. untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembangkan
aplikasi deteksi dini kesiapan kerja. Aplikasi ini dirancang untuk membantu
siswa SMK dan lulusan perguruan tinggi mengukur kesiapan mereka di dunia kerja
sebelum benar-benar masuk ke lapangan. Aplikasi ini menggunakan serangkaian tes
psikometri, penilaian keterampilan, dan kuesioner yang mengukur kecerdasan
emosional, motivasi kerja, keterampilan komunikasi, hingga kemampuan manajemen
waktu. "Dengan aplikasi ini, pengguna bisa mendapatkan gambaran tentang
kekuatan dan kelemahan mereka, serta rekomendasi pekerjaan yang sesuai dengan
profil mereka," ujar Dr. Fatwa Tentama. Aplikasi ini juga akan memberikan
rekomendasi terkait keterampilan apa yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi
teknis maupun non-teknis.
Menurut hasil survei
oleh McKinsey, perusahaan di seluruh dunia semakin mencari lulusan dengan
keterampilan kolaborasi, kreativitas, dan adaptabilitas. Di Indonesia, industri
seperti otomotif dan manufaktur juga semakin menekankan pentingnya soft skills.
Hal ini juga ditekankan oleh manajer HRD dari sebuah perusahaan otomotif yang
mengatakan, "Kami tidak hanya mencari lulusan yang mahir secara teknis,
tetapi juga yang memiliki disiplin tinggi, mampu bekerja sama, dan tahan
terhadap tekanan kerja."
Dengan adanya
aplikasi ini, lulusan SMK dan perguruan tinggi diharapkan dapat lebih siap
bersaing di era Industri 4.0 dan digitalisasi, memastikan bahwa mereka tidak
hanya memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan, tetapi juga mentalitas yang
kuat untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Penulis : Reza Tamafaya
Aprilia
Ilustrator : Reza Tamafaya Aprilia
Sumber :
Badan Pusat Satistik,
“Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan, 2021-2023”–
Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan - Tabel Statistik -
Badan Pusat Statistik Indonesia (bps.go.id)
McKinsey Company,
“McKinsey Global Survey on Skill Building” – Skill building at scale during the
pandemic | McKinsey
Akun Google