Pendidikan Kejuruan Belum Menyesuaikan Diri
Sekolah Menengah
Kejuruan sebagai salah satu lembaga pendidikan kejuruan yang telah melakukan
berbagai upaya dalam meningkatkan performan untuk menghasilkan lulusan yang
dapat diserap pada pasar kerja. Namun, pada kenyataannya masih ada lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan yang menganggur selepas tamat pendidikan. Salah satu
faktor kurang terserapnya lulusan SMK di dunia kerja adalah siswa kurang siap
memasuki dunia kerja yang disebabkan oleh kurangnya wawasan dunia kerja dan kurangnya
keterampilan. Pendidikan kejuruan belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri
dengan perubahan dan dunia kerja.
Salah satu kekurangan
dari pendidikan SMK adalah keterbatasan pilihan pendidikan lanjutan. SMK
biasanya lebih fokus pada bidang teknis dan keterampilan praktis, sehingga
tidak mempersiapkan untuk bidang non-teknis. Sekolah Menengah kejuruan dalam
menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang terampil masih perlu
ditingkatkan. Menyiapkan tenaga terampil dan siap kerja bukan hal mudah apalagi
ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang semakin tidak
seimbang. Selain itu terjadinya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki
oleh lulusan SMK dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Ini
dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah pengangguran tenaga terdidik yang
merupakan cermin bahwa strategi dalam pembangunan sumber daya manusia masih
perlu diperbaiki dan disempurnakan.
Kesiapan siswa SMK
untuk bekerja masih perlu ditingkatkan, kesiapan kerja sendiri terbentuk dari tiga
aspek, yaitu: pengetahuan, sikap kerja, dan keterampilan kerja yang harus
dimiliki siswa SMK. Kesiapan kerja siswa SMK sangat perlu untuk diperhatikan,
karena terdapat dua faktor yang diduga dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi:
kecerdasan (kemampuan akademis), keterampilan, kecakapan, bakat, minat,
motivasi, kemampuan dan kepribadian, cita-cita, dan tujuan dalam bekerja.
Faktor eksternal meliputi: lingkungan keluarga, lingkungan tempat belajar,
lingkungan tempat bersosialisasi.
Upaya yang perlu di
terapkan; Tenaga pengajar kiranya terus meningkatkan intensitas pelaksanaan
layanan untuk meningkatkan skill-skill siswa dalam menumbuhkan kesiapan kerja
dan memiliki employability skill baik teknis maupun non-teknis. Pihak sekolah
diharapkan tetap mendukung program – program pelayanan bimbingan dan konseling
yang akan meningkatkan employability skill dan kesiapan kerja bagi siswa yang
akan tamat dari sekolah menengah kejuruan.
Referensi:
Khotimah, I., & Wiyono, D. (2022). Pengaruh employability skill terhadap kesiapan kerja siswa lpp ariyanti. Indonesian Journal of Office Administration, 4(1), 124-133.
Akun Google